Jumat, 13 Maret 2009

EXCUSITIS.... (awass... penyakit mewabah...!!)

Baru saja ditemukan sebuah penyakit yang disebut EXCUSITIS...
Kabar buruknya di tengah tahun yang kata orang disebut financial
crisis ini, penyakit ini cepat berkembang biak di semua kalangan.
Yang langsung terlihat pada fisik penderita penyakit ini adalah selalu
terlambat dalam melakukan sesuatu...
Dan bahayanya adalah ternyata tanpa disadari semua dari kita
berpotensi mendapatkan penyakit ini.
Bahkan tanpa sadar saat ini penyakit ini sudah menggerogoti pangkal
dari batang otak kita...
Dan pada saatnya kita akan berteriak.... "TERLAMBAT !"

Apa itu EXCUSITIS, kata ini memang baru saja saya temukan ketika
browsing di suatu web site luar.
Sesuai kata dasarnya yaitu EXCUSE... mencari-cari alasan, dalih atau
permintaan maaf atas sesuatu yang enggan kita lakukan...
Sesuatu yang menahan ACTION kita.... yang menjadi the real mental
block diri kita...

Ciri atau symptom atau gejala dari penyakit ini adalah... kata
"terlalu" dan "tidak cukup"
... terlalu muda, terlalu tua, terlalu mahal, terlalu murah, terlalu
beresiko, terlalu mudah...
... tidak cukup modal, tidak cukup waktu, tidak cukup pandai, tidak
cukup berani...
>
Lalu perlahan kita memperlambat rencana besar kita, lalu perlahan kita
berhenti bermimpi
Lalu kita diam tanpa action
Lalu kita mati

Saatnya mencari vaksin utk penyakit yang cepat menjadi epidemi ini...
Sebelum wabah itu sampai ke diri kita
WASPADALAH...!!

Jumat, 06 Maret 2009

TIGA atau EMPAT buah Apel

Malam itu saya sembari rebahan di antara Daffa dan Galih, dalam hawa dingin di antara rintikan hujan bulan Januari, saya mendongeng tentang sesuatu yang pernah diceritakan oleh almarhum kakek mereka … (lebih tepatnya waktu itu ayahku membaca dari sebuah buku…)… tapi tentu saja aku permanis dengan bumbu-bumbu yang lebih up to date...

Judulnya: TIGA atau EMPAT Buah Apel.

Tersebutlah di sebuah sekolah kecil level Elementary dipojokan kota London pada suatu masa di tahun '80 an, seorang guru muda yang baru dua minggu mengajar di sekolah tersebut.

Hari itu dia mengajarkan pelajaran Matematika.
"Tom, kalau saya berikan padamu satu apel dan satu apel dan satu apel, berapa apel yang akan kamu punya?"
Guru tersebut bertanya dengan perlahan kepada anak berumur 7 tahun yang duduk paling depan.
Setelah beberapa saat Tom menjawab: "EMPAT!"
Dengan ekspresi kaget bin heran… karena berharap Tom akan menjawab "tiga" dengan mudahnya.

Guru tersebut sangat kecewa. "Mungkin anak ini kurang mendengarkan tadi" pikirnya.
Guru muda berkacamata bulat tersebut bertanya lagi, "emmm...Tom, dengar baik-baik yah. Jika saya memberimu satu apel dan satu apel dan satu apel, berapa apel yang akan kamu punya?"

Tom, mulai membaca wajah kecewa pada wajah ayu Bu Guru…
Lalu berpikir agak lama, sembari menekuk muka dan melakukan jarimatika…
Tetapi Tom tetap menemukan jawaban yang sama..
Dia hitung lagi supaya menemukan jawaban yang mungkin beda dan akan membuat wajah ayu Bu Guru merona ceria… tetapi hasilnya tetap sama…

"ehmmm ...EMPAT….!" agak ragu-ragu dan perlahan Tom berucap…

Wajah kecewa masih tetap di wajah bu guru berkacamata oval itu.
"Ehmm… kayaknya Tom senang dengan buah Strawberry dan mungkin Tom tidak suka apel sehingga tidak bisa fokus" pikir Bu Guru ayu dan berkacamata itu….

Lalu dengan wajah ayu nan merona bahagia laksana Tamara Blezinsky bertanya lagi "Tom, kalau saya beri kamu satu strawberry dan satu strawberry dan satu strawberry. Maka berapa yang akan kamu punyai?"

Melihat wajah ceria Bu Guru, Tom menjawab cepat: "TIGA!"

Senyum kemenangan berkembang di wajah Bu Guru itu.
Tetapi sebelum terlalu bergembira dengan keberhasilan menemukan sebuah cara pendekatan baru, sekali lagi Bu Guru bertanya: "OK, sekarang kalau saya beri kamu satu apel dan satu apel dan satu apel lagi, berapa yang akan kamu punyai?"

Dengan cepat Tom menjawab, "EMPAT!"

Dengan muka terperanjat pucat, laksana semua ijazah dan sertifikat luruh ditelan angin…
Bu Guru mengeluh, " How Tom, how?"… bagaimana mungkin….

Dalam suara yang pelan dan ragu-ragu, anak muda Tom menjawab,
"…. Karena, saya sudah memiliki satu apel di tas saya Bu…."

Dongeng atau cerita yang berasal dari almarhum ayahku ini sangat sederhana, tetapi terus membekas di hati dan pikiranku…apalagi ayahku memang seorang guru SD juga…

"kadang kita menilai dan memahami seseorang berdasarkan apa yang menurut kita benar"
"kadang kita bereaksi berdasarkan persepsi saja dan bukan pada kenyataan"

Bagaimana menurut anda?